16 Januari 2019

Review peninggalan Nyi Endang Geulis


 Nyi Ending Geulis singgah di lokasi di Talun ini setelah menikah, membabat hutan untuk mendirikan kampung. Peninggalannya berupa kolam-kolam dan sumur masih ada hingga sekarang, airnya tidak pernah surut kalau kemarau. Mereka membuat kolam dan sumur saat itu untuk dijadikan tempat abdas (wudhu) bagi para pengikut, saat itu mereka sudah memiliki pengikut karena memang sudah beragama Islam berikut ini adalah peninggalan yang ada di situs nyi ending geulis

1.Petilasan Nyi Endang Geulis

      Petilasan Nyi Endang Geulis dibuat setelah Nyi Endang Geulis menikah dengan pangeran walangsungsang atau Mbah Kuwu Sangkan mereka berdua singgah di lokasi Talun ini tepatnya di desa Kerandon mereka membabat hutan dengan tujuan mendirikan kampung kampung di sana yang hingga saat ini kampung tersebut dikenal sebagai Petilasan Nyi Endang Geulis.

2.Musholah

      Awal mula di buat musholah karena memang Warga dan juru kunci di sana berinisiatif mendirikan Musholah, untuk memfasilitasi yang ada di dalam Situs Nyi Endang dan di buatkan seperti tempat wudhu yang dulu terbatas, sekarang sudah di buatkan kran untuk wudhu, hal ini termasuk salah satu usaha untuk melayani atau memfasilitasi peziarah atau wisatawan dari hasil para donatur. Karena, memang Situs Nyi Endang ini sendiri belum tersentuh atau belum terjamah oleh Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri. Untuk itu para warga dan Juru kunci disana berinisiatif mendirikan fasilitas fasilitas tersebut untuk para peziarah dan wisatawan yang datang ke sana.

 3.Balong ( Kolam ) Kemuliaan
      
Tempat nya di belakang pentilasan yang terdapat hutan lebat yang jarang di masuki oleh warga sekitar pohon pohon yang rapat dan rindang serta tebing yang curam di hutan itu terkesan mengandung hawa mistis di dalamnya tepat berada di bawah tebing arah meunuju hutan, terdapat kolam atau balong kemuliaan ukuranya terbilang tidak terlalu luas. di kolam atau balong kemuliaan inilah warga sekitar sering dijadikan tempat pembadiaan pengunjung karna di percaya dapat mendatangkan keberkahan di dalamnya .

4.  Sumur Jaya

  Tepat berada di samping kolam atau balong kemulian terdapat sumur jaya yang ukuranya lebih kecil dari kolam atau balong kemuliaan tersebut. Di sumur ini lah warga sekitar menggunakanya untuk syariat nujun bulan dan syariat dagang dengan tujuan untuk mendapatkan kemajuan, kelancaran,dan kesuksesan.
Masehi.Setelah menikah mereka singgah di lokasi talun ini untuk membabad hutan dan mendirikan kampung. Peninggalan nya berupa kolam-kolam dan sumur yang masih ada hingga saat ini, air nya pun tidak pernah surut walau musim kemarau datang. Tujuan awal mereka membuat kolam dan sumur tersebut tidak lain untuk di jadikan tempat wudhu bagi para semua pengikut nya yang beragama islam. Serta sekarang masyarakat sekitar menggunakan kolam dan sumur tersebut untuk syariat nujun bulan dan untuk syariat dagang/tempat usaha. Supaya adanya kemajuan, kelancaran dan kesuksesan.
       Demikian Nyi Endang Geulis yang telah di makamkan di situs ini, karena masih keturunan atau saudara wali songo yaitu Sunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Untuk memberikan pelayanan yang baik kepada peziarah, pihak pengelola berusaha menyediakan fasilitas untuk peziarah, yaitu mendirikan mushola, ada penerangan jalan (listrik), fasilitas di dalam seperti tempat wudhu yang dulu terbatas, sekarang sudah di buatkan kran untuk wudhu, hal ini termasuk salah satu usaha untuk melayani peziarah dari hasil para donatur. Karena, memang petilasan ini belum tersentuh atau belum terjamah oleh Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri.


14 Januari 2019

Review Bangunan Situs Nyi Endang Geulis

      Bicara tentang bangunan ada apa saja sih bangunan yang ada di dalam Situs Nyi Endang Geulis bagunan yag terdapat di dalam Situs Nyi Endang Geulis yaitu berupa :

1.Petilasan Nyi Endang Geulis

      Petilasan Nyi Endang Geulis dibuat setelah Nyi Endang Geulis menikah dengan pangeran walangsungsang atau Mbah Kuwu Sangkan mereka berdua singgah di lokasi Talun ini tepatnya di desa Kerandon mereka membabat hutan dengan tujuan mendirikan kampung kampung di sana yang hingga saat ini kampung tersebut dikenal sebagai Petilasan Nyi Endang Geulis.

2.Musholah

      Awal mula di buat musholah karena memang Warga dan juru kunci di sana berinisiatif mendirikan Musholah, untuk memfasilitasi yang ada di dalam Situs Nyi Endang dan di buatkan seperti tempat wudhu yang dulu terbatas, sekarang sudah di buatkan kran untuk wudhu, hal ini termasuk salah satu usaha untuk melayani atau memfasilitasi peziarah atau wisatawan dari hasil para donatur. Karena, memang Situs Nyi Endang ini sendiri belum tersentuh atau belum terjamah oleh Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri. Untuk itu para warga dan Juru kunci disana berinisiatif mendirikan fasilitas fasilitas tersebut untuk para peziarah dan wisatawan yang datang ke sana.

Review Alamat Situs Nyi Endang Geulis

       Saya akan mengulas bagaimana sih jalan menuju kesana dan bagaimana sih gambaran situasi disana. Situs Nyi Endang Geulis berada di wilayah Talun, desa krandon. Desa Krandon merupakan desa yang terletak di kecamatan Talun Kabupaten Cirebon. Secara geografis desa krandon memiliki luas wilayah 131 Ha, yang berjarak tempuh 2 km dari ibu kota Kecamatan Talun, dan 4 km dari kota Ciebon. Dataran dengan ketinggian rata-rata 500 m di atas permukaan laut. Perjalanan dari pusat kota bisa di tempuh dengan waktu sekitar ±20 menit menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Namun, jika mengguakan roda empat harus di parkir di pinggir jalan raya atau masuk dai gang lain yang tembus ke arah situs tersebut. Jalan yang berliku-liku dan melewati gang-gang sempit. Masyarakat di desa krandon mempunyai adat dan kebudayaan tinggi yang berlandaskan pada ajaran islam sebagai acuan dalam kehidupan bemasyarakat. Salah satu tokoh yang menjadi panutan di desa krandon dan berpengaruh bernama Ramblia yang merupakan juru kunci Situs Nyi Endang Geulis.

      Langsung saja saya akan membahas tentang bagaimana sih situasi di sana . sebenarnya patilasan atau Situs Nyi Endang Geulis sangat nyaman karena suasananya yang begitu asri dan letaknya agak sedikit di dataran tinggi juga mungkin jadinya mengeluakan hawa yang sejuk sayang gitu dia letaknya susah di jangkau, padahal suasana disana sangat enak banget. Masih belum terjamah oleh orang banyak, dilihat dari belakang Situs Nyi Endang Geulis masih terdapat pepohonan yang begitu asri. Begitu pun di belakang masjid suasana nya sangat asri dan sejuk, disamping masjid juga terdapat pendopo atau saung di saung ini biasa para peziarah atau para wisatawan sebagai tempat menunggu.tepat berada di samping pendopo atau saung terdapat tempat parkir sepeda dan motor, di sebelah tempat parkir juga terdapat WC dan tempat wudhu yang berdekatan, saya sangat pihatin dengan keadaan WC dan tempat wudhu disana menurut saya sangat kurang layak pakai disini lah peran pemerintahan kabupaten Cirebon harus berperan untuk mengubah tempat wisata tersebut agar lebih nyaman di gunakkan. Sayang banget kan tempatnya sudah bagus dan indah tapi tercemarkan karena fasilitas fasilitas di sana kurang layak di gunakkan.

      Di sana sudah bagus tempatnya terdapat tatanan tanaman tanaman yang indah enak di pandang di dalam Situs Nyi Endang Geulis mungkin tujuan di tanamnya bunga bunga tersebut agar para peziarah dan wisatawan lebih nyaman dan tidak bosan saat disana. Nah itulah gambaran suasana yang ada di dalam Situs Nyi Endang Geulis.

Review Peninggalan - Peninggalan Situs Nyi Endang Geulis

         Di sini saya akan mengulas ada apa saja sih peninggalan – peniggalan yang ada di Situs Nyi Endang Geulis tepatnya di Desa Kerandon, Talun, Kab. Cirebon. Nah peniggalannya berupa : Sumur Jaya dan Kolam ( Balong ) Kemuliaan.

        Disini saya akan membahas Sumur Jaya terlebih dahulu ya, Sumur Jaya merupakan tempat untuk mengambil air pada saat Nyi Endang Geulis ingin Mandi atau warga sekitar yang ingin mengambil air, Tepat berada di samping kolam atau ( balong ) kemuliaan tidak berada jauh terdapat sumur jaya yang ukuranya lebih kecil dari kolam atau balong kemuliaan tersebut. Di sumur ini lah warga sekitar menggunakkanya untuk syariat nujun bulan dan syariat dagang dengan tujuan untuk mendapatkan kemajuan, kelancaran,dan kesuksesan. Di Sumur Jaya ini juga memiliki bebatuan yang besar.

        Selain adanya sumur jaya, ada juga Kolam ( Balong ) Kemuliaan. Tempat nya di belakang pentilasan yang terdapat hutan lebat yang jarang di masuki oleh warga sekitar pohon pohon yang rapat dan rindang serta tebing yang curam di hutan itu terkesan mengandung hawa mistis di dalamnya tepat berada di bawah tebing arah meunuju hutan, Konon katanya menurut juru kunci Situs Nyi Endang Geulis jika mandi di Kolam ( Balong ) Kemuliaan akan menjadi sehat kembali yang tadinya sakit, Kolam ( Balong ) Kemuliaan bisa untuk mandi yang dulunya tidak sehat menjadi sehat, yang dulunya tidak menikah jadi menikah. Kolam ( Balong ) Kemuliaan ini juga sebagai tempat untuk mandi Nyi Endang Geulis dan bisa juga untuk mandi orang-orang yang berkunjung ke Nyi Endang Geulis agar permintaan nya diijabah tidak hanya mengambil air sumur tetapi mandi air balong juga permintaan nya akan diijabah. Ada juga bangunan yang ditinggalkan Nyi Endang Geulis yaitu Pintu pertama atau Gerbang utama, disitu Cuma ada satu pintu yang untuk masuk ke wilayah Nyi Endang Geulis. Nah itu lah peninggalan – peninggalan yang ada di dalam Situs Nyi Endang Geulis.

Review Silsilah Nyi Endang Geulis


      Silsilah dari Nyi Endang Geulis yaitu Mbah kuwu Cirebon dan istrinya yaitu Nyai Endang Geulis putranya Prabu Siliwangi Pajajaran, ibunya Nyi Endang Geulis yaitu Endah Ayu setelah menikah dengan mbah kuwu Cirebon diganti namanya menjadi Nyi Putri Endang Geulis dan Mbah Kuwu Sangkan sesepuh Cirebon wiring Putra Sangyang Danuwaji. Kalau mbah kuwu Cirebon nya Putra Sangyang Prabu Siliwangi begitu beliau mempunyai wilayah kota Cirebon yaitu beliau. Karena di wakilin oleh keponakannya yaitu sebagai pimpinan walinya yaitu Mbah Syarif Hidayatullah sunan gunung jati Cirebon yaitu anaknya adiknya mbah kuwu Cirebon. Jadi ibunda KIAN NYIMAS RARASANTANG sekarang bilangnya Syarifah Mudaim. Punya anak lagi di pulau jawa di angkat menjadi wali songo yaitu mbah sunan Syarif Hidayatullah. Di sini mbah kuwu Cirebon sebagai uwanya dan mertuanya.
      Mbah Kuwu Sangkan merupakan paman dari Syarif Hidayatullah. Masyarakat cirebon mengenal Mbah Kuwu sebagai uwa-nya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dalam berbagai literatur menurut Mahrus, Mbah Kuwu mempunyai 5 nama yaitu Pangeran Cakrabuana, Walang Sungsang, Haji Abdullah Iman, Syekh Somadullah, dan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang itu sendiri. Mbah Kuwu Sangkan terlahir tiga bersaudara, yakni Mbah Kuwu Sangkan, Raden Kiansantang, beserta Nyai Rarasantang dari pasangan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang. Sebagai Putra Mahkota, Mbah Kuwu Sangkan mewarisi sifat kepemimpinan ayahandanya yaitu, Prabu Siliwangi. Hal ini terbukti dari pencapaiannya yang berhasil menduduki takhta Cirebon di bawah Kerajaan Pasundan yang saat itu dipimpin Raja Galuh, dan Mbah Kuwu merupakan raja pertamanya. Perjuangan Mbah Kuwu Sangkan membangun Cirebon dan menyebarkan Islam dimulai pada usianya yang kala itu masih sangat muda belia beliau baru menginjak usia 25 tahun. Ia mulai berdakwah, hingga mencapai puncaknya saat ia menduduki singgasana kerajaan Cirebon, dari situ ia memiliki kekuatan untuk memperluas wilayah dakwahnya.
      Diceritakan saat Nyai Endang Geulis menikah dengan pangeran walang sungsang pada tahun 1442 Masehi.Setelah menikah mereka singgah di lokasi talun ini untuk membabad hutan dan mendirikan kampung.Peninggalan nya berupa kolam-kolam dan sumur yang masih ada hingga saat ini,air nya pun tidak pernah surut walau musim kemarau datang. Tujuan awal mereka membuat kolam dan sumur tersebut tidak lain untuk di jadikan tempat wudhu bagi para semua pengikut nya yang beragama islam. Serta sekarang masyarakat sekitar menggunakan kolam dan sumur tersebut untuk syariat nujun bulan dan untuk syariat dagang/tempat usaha. Supaya ada nya kemajuan, kelancaran dan kesuksesan.

Review Sejarah Nyi Endang Geulis


    Cirebon merupakan salah satu daerah sentral penyebaran Islam di Jawa Barat. Selama ini masyarakatnya hanya mengenal Syarif Hidyatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai tokoh utama penyebar Islam di Jawa Barat, salah satunya di Cirebon.
   Tetapi jika ditelusuri lebih jauh, tokoh atau orang yang pertama kali membangun pondasi keislaman adalah Mbah Kuwu Sangkan (lahir sekitar 1423 masehi) yang merupakan suami dari Nyi Endang Geulis itu sendiri. Disini kita akan membahas siapa saja sih silsilah dari Situs Nyi Endang Geulis kita akan menelusuri lebih lanjut jejak Mbah Kuwu Sangkan dan Nyi Endang Geulis di daerah Cirebon tepatnya di desa Krandon Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.
      Sejarah secara singkat boleh dikatakan patilasan atau makdaroh. Mbah kuwu Cirebon terutama mbah kuwu Cirebon sangkan Cirebon, beliau dengan istrinya Nyi Endang Geulis . Disini kramat cimandoi, kramat talun dan kramat balong biru. Merupakan mbah kuwu Cirebon semua, jadi 1 orang mempunyai 3 lokasi, perbedaannya ada di Makam dan tidak ada Makam. Tapi tetap tertuju kepada beliau mbah kuwu Cirebon dan istrinya yaitu Nyai Endang Geulis putranya Prabu Siliwangi Pajajaran, ibunya Nyi Endang Geulis yaitu Endah Ayu setelah menikah dengan mbah kuwu Cirebon diganti namanya menjadi Nyi Putri Endang Geulis dan Mbah Kuwu Sangkan sesepuh Cirebon wiring Putra Sangyang Danuwaji. Kalau mbah kuwu Cirebon nya Putra Sangyang Prabu Siliwangi begitu beliau mempunyai wilayah kota Cirebon yaitu beliau. karena di wakilin oleh keponakannya yaitu sebagai pimpinan walinya yaitu Mbah Syarif Hidayatullah sunan gunung jati Cirebon yaitu anaknya adiknya mbah kuwu Cirebon. Jadi ibunda KIAN NYIMAS RARASANTANG sekarang bilangnya Syarifah Mudaim. Punya anak lagi di pulau jawa di angkat menjadi wali songo yaitu mbah sunan Syarif Hidayatullah. Di sini mbah kuwu Cirebon sebagai uwanya dan mertuanya. Jadi raja Cirebon itu masih satu keturunan cucunya, kalau berbeda satu orang mungkin kerajaannya tidak akan benar, jadi harus satu keturunan, satu irama, satu pendapat. Dan itu sejarah singkatnya, tidak bisa panjang lebar karena diharuskan ada syarat-persyaratannya yaitu sajen yang luar biasa. Nanti datang tidak ada makanan bisa celaka. Jadi, kalau yang datang kesini harus memenuhi Syariat, Ikhtiar. Mencari kharoman dan wasiahnya beliau. Semoga tujuan kita ini di dunia ijabah sama Allah SWT. Supaya menjadi orang sukses jadi syariat dan ikhtiar. Syariatnya kita belajar dan berdo’a serta ikhtiar kita berusaha insyaallah kita menjadi orang yang sukses.

Review Silsilah Situs Nyi Endang Geulis

      Cirebon merupakan salah satu daerah sentral penyebaran Islam di Jawa Barat. Selama ini masyarakatnya hanya mengenal Syarif Hidyatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai tokoh utama penyebar Islam di Jawa Barat, salah satunya di Cirebon.

      Tetapi jika ditelusuri lebih jauh, tokoh atau orang yang pertama kali membangun pondasi keislaman adalah Mbah Kuwu Sangkan (lahir sekitar 1423 masehi) yang merupakan suami dari Nyi Endang Geulis itu sendiri. Disini kita akan membahas siapa saja sih silsilah dari Situs Nyi Endang Geulis kita akan menelusuri lebih lanjut jejak Mbah Kuwu Sangkan dan Nyi Endang Geulis di daerah Cirebon tepatnya di desa Krandon Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.

      Mbah Kuwu Sangkan merupakan paman dari Syarif Hidayatullah. Masyarakat cirebon mengenal Mbah Kuwu sebagai uwa-nya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dalam berbagai literatur menurut Mahrus, Mbah Kuwu mempunyai 5 nama yaitu Pangeran Cakrabuana, Walang Sungsang, Haji Abdullah Iman, Syekh Somadullah, dan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang itu sendiri. Mbah Kuwu Sangkan terlahir tiga bersaudara, yakni Mbah Kuwu Sangkan, Raden Kiansantang, beserta Nyai Rarasantang dari pasangan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang. Sebagai Putra Mahkota, Mbah Kuwu Sangkan mewarisi sifat kepemimpinan ayahandanya yaitu, Prabu Siliwangi. Hal ini terbukti dari pencapaiannya yang berhasil menduduki takhta Cirebon di bawah Kerajaan Pasundan yang saat itu dipimpin Raja Galuh, dan Mbah Kuwu merupakan raja pertamanya. Perjuangan Mbah Kuwu Sangkan membangun Cirebon dan menyebarkan Islam dimulai pada usianya yang kala itu masih sangat muda belia beliau baru menginjak usia 25 tahun. Ia mulai berdakwah, hingga mencapai puncaknya saat ia menduduki singgasana kerajaan Cirebon, dari situ ia memiliki kekuatan untuk memperluas wilayah dakwahnya.

      Cerita beralih dengan menceritakan bagaimana Mbah Kuwu Sangkan bisa menikahi Nyi Endang Geulis dimulai dari Sang Danuwarsi yang juga dikenal dengan nama Ajar Sasmita yang tengah mengajar Walangsungsang. Sang Danuwarsi mengganti nama Walangsungsang menjadi Samadullah dan menghadiahi sebuah cincin bernama Ampal yang berkesaktian dapat dimuati segala macam benda. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba datanglah Rarasantang yang serta merta memeluk kakaknya. Di Gunung Merapi, Walangsungsang atau Mbah Kuwu Sangkan dinikahkan dengan putri Danuwarsi yang bernama Nyi Endang Geulis. Sesuai dengan petunjuk Resi Danuwarsi, Samadullah beserta istri dan adiknya meninggalkan Gunung Merapi menuju bukit Ciangkup. Nyi Endang Geulis dan Rarasantang dimasukkan ke dalam cincin Ampal.

      Semasa hidup, Mbah Kuwu Sangkan memiliki dua istri, yakni Nyi Endang Geulis dan Nyai Ratna Lilis. Dari pernikahannya dengan Nyi Endang Geulis dianugerahi keturunan Nyi Pakung Wati yang kelak menjadi salah satu pendamping Syekh Syarif Hidayatullah. Syekh Syarif Hidayatullah sendiri merupakan putra dari Nyai Rarasantang, adik Mbah Kuwu Sangkan. Sedangkan dari pernikahannya dengan Nyai Ratna Lilis dianugerahi seorang putra bernama Pangeran Abdurrokhman. Mbah Kuwu Sangkan dan istrinya yaitu Nyai Endang Geulis putranya Prabu Siliwangi Pajajaran, ibunya Nyi Endang Geulis yaitu Endah Ayu setelah menikah dengan Mbah kuwu Cirebon diganti namanya menjadi Nyi Putri Endang Geulis dan Mbah Kuwu Sangkan sesepuh Cirebon wiring Putra Sangyang Danuwaji. Kalau mbah kuwu Cirebon nya Putra Sangyang Prabu Siliwangi begitu beliau mempunyai wilayah kota Cirebon yaitu beliau. Itulah silsilah dari Mbah Kuwu Sangkan beserta sang istri Nyi Endang Geulis.

Review Bangunan Nyi Endang Geulis


Yang saya ketahui terdapat beberapa bangunan yang ada di Petilasan Nyai Endang Geulis, Diantara Nya:

1 Petilasan Nyi Endang Geulis
      Petilasan Nyi Endang Geulis dibuat setelah Nyi Endang Geulis menikah dengan pangeran walangsungsang mereka singgah di lokasi Talun tepatnya di desa Kerandon mereka membabat hutan dan mendirikan kampung di sana yang hingga saat ini kampung tersebut dikenal sebagai petilasan Nyi Endang Geulis. Di dalam Petilasan terdapat makam yang tidak boleh disentuh atau di foto oleh pengunjung yang datang ke petilasan untuk meminta doa kepada juru kunci.
2 Musholah
      Warga dan juru kunci di sana mendirikan Musholah dari hasil mengumpulkan uang dari para donatur untuk keperluan atau fasilitas pengunjung. Karena memang petilasan ini belum tersentuh atau belum terjamah oleh Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri.  Mushola tersebut selalu ramai oleh warga sekitar untuk beribada baik siang maupun malam, karna tidak ada lagi mushola yang dekat dengan rumah warga.
Pendapat saya tentang 2 bangunin ini, tingkatkan lagi pengembangan objek wisata ini agar bisa menambah ketertarikan para wisatawan, dan wisatawan pun merasa betah dan nyaman, misalnya dengan menunjukkan keramahan kepada para pengunjung, menjaga ucapan terhadap pengunjung, menunjukkan nilai – nilai budaya masyarakat setempat agar para pengunjung juga ikut mengenal nilai – nilai budaya masyarakat di sekitar situs. Selain itu juga masyarakat sekitar ikut serta dalam menjaga kebersihan dan keamanan di daerah sekitar Situs Nyi Edang Geulis dengan cara tidak membuang sampah sampah sembarangan, selalu membersihkan bangunan-bangunan di sekitar petilasan maupun membersihkan peninggalan yang terdapat diluar petilasan, misal nya sumur dan balong.  agar terlihat lebih menarik lagi untuk dilihat oleh para penunjung. Dan Pemerintahan Kabupaten Cirebon diharapkan lebih intensif untuk melakukan pembinaan terhadap pengelola objek wisata yang ada di Talun, diharapkan mampu menyiapkan tenaga - tenaga professional dan pengelolaan wisata yang ada di Talun, terutama objek wisata Situs Nyi Endang Geulis. Agar tempat wisata ini lebih ramai lagi di kunjungi oleh para ziarah untuk meminta doa atau berziarah ke makam Nyi Endang Geulis.

Review Peninggalan Nyi Endang Geulis


    Terdapat 2 peninggalan bersejarah di Petilasan Nyi Endang Geulis yaitu:

1.     1.  Balong ( Kolam ) Kemuliaan
      Tempat nya di belakang pentilasan yang terdapat hutan lebat yang jarang di masuki oleh warga sekitar pohon pohon yang rapat dan rindang serta tebing yang curam di hutan itu terkesan mengandung hawa mistis di dalamnya tepat berada di bawah tebing arah meunuju hutan, terdapat kolam atau balong kemuliaan ukuranya terbilang tidak terlalu luas. di kolam atau balong kemuliaan inilah warga sekitar sering dijadikan tempat pembadiaan pengunjung karna di percaya dapat mendatangkan keberkahan di dalamnya .
2.   2.     Sumur Jaya
   Tepat berada di samping kolam atau balong kemulian terdapat sumur jaya yang ukuranya lebih kecil dari kolam atau balong kemuliaan tersebut. Di sumur ini lah warga sekitar menggunakanya untuk syariat nujun bulan dan syariat dagang dengan tujuan untuk mendapatkan kemajuan, kelancaran,dan kesuksesan.
         Dari 2 peninggalan bersejarah itu memiliki cerita tersendiri bagaimana peninggalan tersebut di buat pada saat itu Nyi Endang Geulis menikah dengan pangeran walang sungsang pada tahun 1442 Masehi.Setelah menikah mereka singgah di lokasi talun ini untuk membabad hutan dan mendirikan kampung. Peninggalan nya berupa kolam-kolam dan sumur yang masih ada hingga saat ini, air nya pun tidak pernah surut walau musim kemarau datang. Tujuan awal mereka membuat kolam dan sumur tersebut tidak lain untuk di jadikan tempat wudhu bagi para semua pengikut nya yang beragama islam. Serta sekarang masyarakat sekitar menggunakan kolam dan sumur tersebut untuk syariat nujun bulan dan untuk syariat dagang/tempat usaha. Supaya adanya kemajuan, kelancaran dan kesuksesan.
       Demikian Nyi Endang Geulis yang telah di makamkan di situs ini, karena masih keturunan atau saudara wali songo yaitu Sunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Untuk memberikan pelayanan yang baik kepada peziarah, pihak pengelola berusaha menyediakan fasilitas untuk peziarah, yaitu mendirikan mushola, ada penerangan jalan (listrik), fasilitas di dalam seperti tempat wudhu yang dulu terbatas, sekarang sudah di buatkan kran untuk wudhu, hal ini termasuk salah satu usaha untuk melayani peziarah dari hasil para donatur. Karena, memang petilasan ini belum tersentuh atau belum terjamah oleh Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri.

Review Hasil Observasi


petilasan Nyi Mas Endang Geulis di Desa Krandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon,
Nyi Mas Endang Geulis tinggal bersama sang suami, Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana.
Petilasan Nyi Mas Endang Geulis merupakan salah satu dari tiga petilasan yang ada di Desa Krandon ini. Jarang tersentuh dan keberadaannya sedikit tersembunyi karna memang lokasi pentilasan ini jauh dari kota Cirebon
Akses masuk pun sempit dan hanya cukup memuat satu motor, sementara bagi pengunjung yang membawa mobil maka mobilnya harus parkir di pinggir jalan raya atau masuk dari gang lain yang tembus ke arah petilasan tersebut. Keberadaan gang ini pun tidak banyak diketahui pengunjung.
Juru kunci Petilasan Nyi Mas Endang Geulis, Rambliya, mengungkapkan, petilasan ini ibarat rumah tinggal, sebab di kawasan Talun terdapat beberapa petilasan yang berkaitan satu sama lain.
“Ada Kramat Mbah Kuwu Cirebon yang diibaratkan sebagai kantor, lalu Petilasan Cimandung yang diibaratkan sebagai tempat pusaka, dan Petilasan Nyi Mas Endang Geulis yang yang diibaratkan sebagai rumah. Semuanya satu kesatuan, karena memang jejak kaki yang sama dari Pangeran Cakrabuana,” tuturnya, kemarin.
Petilasan Nyi Mas Endang Geulis memang tidak seramai Petilasan Cimandung. Namun, menurut Rambliya, petilasan ini diibaratkan seorang istri yang ada pada diri Nyi Mas Endang Geulis. Tenang, setia mendampingi, namun keberadaanya dibutuhkan. Nyi Mas Endang Geulis sendiri merupakan putri dari Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api dan menikah dengan Pangeran Walangsungsang pada 1442 Masehi.
“Mereka singgah di lokasi di Talun ini setelah menikah, membabat hutan untuk mendirikan kampung. Peninggalannya berupa kolam-kolam dan sumur masih ada hingga sekarang, airnya tidak pernah surut kalau kemarau. Mereka membuat kolam dan sumur saat itu untuk dijadikan tempat abdas (wudhu) bagi para pengikut, saat itu mereka sudah memiliki pengikut karena memang sudah beragama Islam,” tuturnya.
Menurutnya, meski tidak seramai Petilasan Cimandung yang tiap harinya dibanjiri pengunjung, namun tetap saja ada tamu yang datang meski masih di bawah 10 orang tiap harinya.
“Mereka ingin mandi di sini, mengalap berkah. Namun tetap saja hasilnya kita kembalikan kepada Allah Swt,” katanya.
Seperti terlihat oleh KC Online, Jumat siang kemarin, beberapa warga dari Indramayu datang untuk mandi di salah satu kolam dari tiga kolam yang ada di petilasan ini. Mereka nekat mandi di kolam meski hujan besar datang.
“Kolamnya di area terbuka tapi dikelilingi oleh tembok, sehingga kalau hujan ya kehujanan,” kata Rambliya.
Puluhan tahun menjadi juru kunci yang dimulai dari kakek dan ayahnya, menurut Rambliya, pihaknya perlahan mulai bisa mendirikan beberapa bangunan untuk keperluan pengunjung.
“Asli dari mengumpulkan uang dari para donatur, termasuk untuk mendirikan musala, mendirikan bangunan lainnya, semuanya swadaya karena memang petilasan ini belum tersentuh oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon meskipun sering disebut sebagai salah satu obyek wisata religi di Kabupaten Cirebon


13 Januari 2019

Review hasil observasi situs Nyi Mas Endang Gelis

   Situs yang terdapat di kota Cirebon Nyi Mas Endang Gelis di Desa Keradon, Kecamatan Talun, kabupaten cirebon. 
     Pohon yang rapat dan tebing yang curam di hutan itu terkesan mengandung mistis. tepat di bawah tebing arah menuju hutan, terdapat kolam yang berukuran tidak terlalu luas. kolam ini lah yang sering dijadikan tempat pemandian pengunjung karena dipercaya memiliki berkah. konon, kolam ini merupakan kolam asli saat Nyi Mas Endang Gelis tinggal di kawasan ini bersama sang suami, Pangeran Walangsungsang alyas Pangeran Cakrabuana.
    Petilasan Nyi Mas Endang Gelis, merupakan salah satu dari tiga petilasan yang ada di Desa Krandon ini. Jarang tersentuh keberadaannya sedikit tersembunyi dibandingkan dua petilasan lainnya, yaitu petilasan Cimandung dan petilasan Balong Biru. Juru kunci petilasan Nyi Mas Endang Gelis, merupakan petilasan ini ibarat rumah tinggal, sebab dikawasan Talun terdapat beberapa petilasan yang berkaitan satu sama lain. Ada Kramat Embah Kuwu Cirebon yang diibaratkan sebagai kantor, lalu petilasan Cimandung yang diibaratkan sebagai tempat pusaka, dan petilasan Nyi Mas Endang Gelis yang diibaratkan sebagai rumah. semuanya satu kesatuan, karena memeang jejak kaki yang sama dari Pangeran Cakrabuana namun,  petilasan ini diibaratkan seorang istri yang ada pada diri Nyi Mas Endang Gelis. tentang setia mendampingi, namun keberadaannya dibutuhkan. Nyi Mas Endang Gelis sendiri merupakan putri dari Ki Gedheng Danu Mara Api dan menikah dengan pangeran Walangsungsang pada 1442 Masehi.
"mereka singgah dilokasi Talun ini setelah menikah, membabat hutan untuk mendirikan kampung. Peninggalan berupa kolam-kolam dan sumur masih ada hingga sekarang, airnya tidak pernah surut kalau kemarau. mereka membuat kolam dan sumur saat itu untuk dijadikan tempat abdas (wudhu) bagi para pengikut, saat itu mereka sudah memiliki pengikut karena memang sudah beragama islam".
meski tidak seramai Petilasan Cimandung yang tiap hari dibanjiri pengunjung, namun tetap saja ada tamu yang datangmeski masih dibawah 10 orang tiap harinya. "Mereka ingin mandi disini mengalap berkah. Namun tetap saja hasilnya kita kembalikan kepada allah swt".
     Kolamnya di area terbuka tapi di kelilingi oleh tembok, sehingga kalau hujan yakehujanan hehehe.
Dan Gurukunci disana sudah puluhan tahun menjadi juru kunci dimulai dari kakek dan ayahnya, pihaknya mulai bisa mendirikan beberapa bangunan untuk keperluan penginjung. Hasil dari pengumpulan uang dari para donatur, termasuk untuk mendirikan musola, mendirikan bangunan lainnya, semuanya swadaya karena memang petilasan ini belum tersentuh oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon meskipun sering disebut sebagai salah satu obyek wisata religi di Kabupaten Cirebon dan benda pusaka peninggalan yakni tombak dan payung, dilangsungkan berdoa bersama di arak dikelilingi desa, kegiatan itu merupakan acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun di bulan Maulud. "Alhamdulillah acara ini berjalan dengan baik dan lancar karena masyarakat sini pada umumnya sudah rutin melaksnakan adat istiadat,nya," Tradisi rangkaian kegiatan, sejak dilaksanakan doa bersama dan dilangsungkan mengarak benda pusaka peninggalan leluhurnya, diikuti ribuan warga sambil mengumandangakan solawatan bersama. 

11 Januari 2019

Review Hasil Observasi wisata Religi Nyi Endang Geulis

   
      Cirebon memang dikenal sebagai objek wisata religi karena jejak syiar nya yang begitu kental. Petilasan Nyai Endang Geulis merupakan salah satu dari 3 petilasan yang ada di Desa Kerandon Kec. Talun Kabupaten Cirebon. Terletak kurang lebih 17km dari Kota Cirebon.             
       Pendapat saya tentang Petilasan Nyai Endang geulis, petilasan ini jarang tersentuh dan keberadaan nya sedikit tersembunyi, Akses untuk masuk ke petilasan ini pun sempit dan hanya cukup memuat satu motor, sementara pengunjung yang membawa mobil, mobil nya harus parkir di pinggiran jalan raya atau masuk dari gang lain yang tembus ke arah Petilasan Nyai Endang Geulis. keberadaan gang ini pun tidak banyak diketahui pengunjung.
      Di Petilasan Nyai Endang Geulis ini banyak para peziarah yang datang ke wisata untuk meminta doa atau untuk berziarah ke makan. Ziarah makam merupakan satu dari sekian banyak tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Berbagai maksud dan tujuan maupun motivasi selalu menyertai aktivitas ziarah. Ziarah kubur yang dilakukan oleh orang Jawa ke makam yang dianggap keramat sebenarnya akibat pengaruh masa Jawa-Hindu. Pada masa itu, kedudukan raja masih dianggap sebagai titising dewa sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan seorang raja masih dianggap keramat termasuk makam, petilasan, maupun benda-benda peninggalan lainnya
      Juru kunci Petilasan Nyai Endang Geulis, Rambliya, Mengungkapkan, petilasan ini ibarat rumah tinggal, sebab dikawasan talun terdapat beberapa petilasan yang berkaitan satu sama lain. "Ada Kramat Mbah Kuwu Cirebon yang di ibaratkan sebagai kantor, lalu Petilasan Cimandung yang di ibaratkan sebagai tempat pusaka, dan Petilasan Nyai Endang Geulis yang di ibaratkan sebagai rumah. Semua nya satu kesatuan, karena memang jejak kaki yang sama dari Pangeran Cakrabuana."
       Yang saya ketahui tentang Petilasan Nyai Endang Geulis. Petilasan ini tidak seramai Petilasan Cimandung yang setiap hari nya di banjiri pengunjung. Namun tetap saja ada tamu yang datang meski masih dibawah 10 orang setiap hari nya, pengunjung datang menginginkan ada nya tujuan tertentu. Masing-masing warga yang ingin datang kesini bisa mengambil air sekaligus mandi dibalong atau sumur yang terdapat di petilasan.
      Keunggulan di petilasan ini adalah ketiadaan pengemis, pengunjung jika ikhlas bisa memberikan uang secukup nya kepada anak-anak yang biasa berkumpul disini, Namun mereka tidak pernah meminta. Dan memang banyak warga sekitar atau anak-anak kecil yang suka bermain atau berada di sekitaran petilasan tersebut.
      Di petilasan ini terdapat pohon yang rapat dan tebing yang curam. Tepat dibawah nya tebing arah menuju hutan terdapat sebuah kolam yang berukuran tidak terlalu luas, kolam itulah yang sering dijadikan tempat pemandian pengunjung, karena dipercayai memiliki berkah. Banyak bunyi binatang-binatang hutan yang terdengar begitu nyaring dari arah hutan, sebab Petilasan Nyai Endang Geulis terdapat hutan lebat yang jarang di masuki oleh warga sekitar dan hutan itu terkesan mengandung mistis menurut pendapat saya.
      Sebagai rasa penghormatan kepada leluhur, konon ada Tradisi Unjung Nyai Endang Geulis "Warga Ngalap Berkah". Tradisi ini sudah di lakukan sejak ratusan tahun lalu. Proses unjungan selalu dilaksanakan setiap tanggal 17 Maulid 1438 Hijriyah.

10 Januari 2019

Review Hasil Observasi

        Dalam menghadapi masyarakat atau objek dakwah yang kompleks wisata religi juga dapat digunakan untuk berdakwah pada era modern saat ini, selain mendapatkan kesenangan atau hiburan, juga akan mendapatkan pelajaran tentang ajaran-ajaran Islam serta menambah pengetahuan dan wawasan seperti pemahaman kesadaran rasa syukur akan kemahakuasaan Allah. Oleh karena itu, bukan hanya kesehatan pikiran saja yang didapatkan melalui wisata akan tetapi juga mendapatkan pahala dengan memaknai wisata sebagai ibadah untuk meningkatkan atau mempertebal keimanan. Pada era modernisasi ini secara disadarai atau tidak kehidupan manusia telah dipengaruhi oleh nilai-nilai baru dan tentunya tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal tersebut mengundang keprihatinan umat Islam akan kehampaan spiritual yang dapat merusak moral keimanan. Oleh sebab itu solusi yang terbaik yaitu melaksanakan dakwah secara efektif dan efisien serta berkesinambungan guna mencapai tujuan dakwah. Adapun yang dimaksud dakwah yaitu suatu kegiatan untuk membina manusia agar mentaati ajaran Islam, guna memperoleh kebahagiaan didunia maupun diakhirat.

         Pada zaman modern ini, dalam menyebarkan agama Islam tidak hanya menggunakan metode tradisional saja seperti berdakwah ceramah dari masjid ke masjid atau penyelenggaraan pengajian dan lain sebagainya akan tetapi dengan berwisata, dakwah pun bisa dilkukan. Di era modern ini masyarakat membutuhkan penyegaran situasi tetapi masih dalam kaitannnya dengan ajaran Islam. Dengan wisata religi dapat dilakukan dengan mengunjungi situs makam-makam ziarah dan peninggalan-peninggalan sejarah Islam. Saat ini wisata religi sangat diminati oleh banyak wisatawan. Hal ini dapat diamati dengan melihat banyaknya masyarakat yang melakukan wisata religi yang dianggap memiliki karomah tertentu, seperti mengunjungi makam-makam ataupun situs peninggalan sejarah agama Islam.

          Salah satunya yaitu wisata religi di wilayah Talun,desa krandon. Desa Krandon merupakan desa yang terletak di kecamatan Talun Kabupaten Cirebon. Secara geografis desa krandon memiliki luas wilayah 131 Ha, yang berjarak tempuh 2 km dari ibu kota Kecamatan Talun, dan 4 km dari kota Ciebon. Dataran dengan ketinggian rata-rata 500 m di atas permukaan laut. Perjalanan dari pusat kota bisa di tempuh dengan waktu sekitar ±20 menit menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Namun, jika mengguakan roda empat harus di parkir di pinggir jalan raya atau masuk dai gang lain yang tembus ke arah situs tersebut. Jalan yang berliku-liku dan melewati gang-gang sempit. Masyarakat di desa krandon mempunyai adat dan kebudayaan tinggi yang berlandaskan pada ajaran islam sebagai acuan dalam kehidupan bemasyarakat. Peran tokoh agama, adat, dan masyarakat, sangat berpengaruh di masyarakat. Salah satu tokoh yang menjadi panutan dan berpengaruh bernama “Ramblia” yang merupakan juru kunci Situs Nyi Endang Geulis. Kondisi seperti ini merupakan potensi untuk lahirnya desa wisata religi. Adapun sejarah dan silsilah Situs Nyi Endang Geulis yaitu : Secara singkat Situs Nyi Endang Geulis boleh dikatakan patilasan atau makdaroh. Mbah kuwu Cirebon terutama mbah kuwu Cirebon sangkan Cirebon, beliau dengan istrinya Nyi Endang Geulis . Disini kramat cimandoi, kramat talun dan kramat balong biru. Merupakan mbah kuwu Cirebon semua, jadi 1 orang mempunyai 3 lokasi, perbedaannya ada di Makam dan tidak ada Makam. Tapi tetap tertuju kepada beliau mbah kuwu Cirebon dan istrinya yaitu Nyai Endang Geulis putranya Prabu Siliwangi Pajajaran, ibunya Nyi Endang Geulis yaitu Endah Ayu setelah menikah dengan mbah kuwu Cirebon diganti namanya menjadi Nyi Putri Endang Geulis dan Mbah Kuwu Sangkan sesepuh Cirebon wiring Putra Sangyang Danuwaji. Kalau mbah kuwu Cirebon nya Putra Sangyang Prabu Siliwangi begitu beliau mempunyai wilayah kota Cirebon yaitu beliau. karena di wakilin oleh keponakannya yaitu sebagai pimpinan walinya yaitu Mbah Syarif Hidayatullah sunan gunung jati Cirebon yaitu anaknya adiknya mbah kuwu Cirebon. Jadi ibunda KIAN NYIMAS RARASANTANG sekarang bilangnya Syarifah Mudaim. Punya anak lagi di pulau jawa di angkat menjadi wali songo yaitu mbah Sunan Syarif Hidayatullah. Di sini mbah kuwu Cirebon sebagai uwanya dan mertuanya. Adapun di dalam Situs Nyi Endang Geulis terdapat peninggalan berupa :
1.Balong ( Kolam ) Kemuliaan
2.Sumur Jaya

          Yang memiliki cerita tersendiri bagaimana peninggalan tersebut di buat pada saat itu Nyi Endang Geulis menikah dengan pangeran walang sungsang pada tahun 1442 Masehi.Setelah menikah mereka singgah di lokasi talun ini untuk membabad hutan dan mendirikan kampung. Peninggalan nya berupa kolam-kolam dan sumur yang masih ada hingga saat ini, air nya pun tidak pernah surut walau musim kemarau datang. Tujuan awal mereka membuat kolam dan sumur tersebut tidak lain untuk di jadikan tempat wudhu bagi para semua pengikut nya yang beragama islam. Serta sekarang masyarakat sekitar menggunakan kolam dan sumur tersebut untuk syariat nujun bulan dan untuk syariat dagang/tempat usaha. Supaya adanya kemajuan, kelancaran dan kesuksesan.

          Masyarakat sekitar pada umumnya masih menganggap situs ini sebagai tempat keramat, sehingga situs ini sering di kunjungi oleh peziarah untuk memohon do’a restu, berkah maupun pangestu kepada seorang yang telah di makamkan di situ. Demikian Nyi Endang Geulis yang telah di makamkan di situs ini, karena masih keturunan atau saudara wali songo yaitu Sunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Untuk memberikan pelayanan yang baik kepada peziarah, pihak pengelola berusaha menyediakan fasilitas untuk peziarah, yaitu mendirikan mushola, ada penerangan jalan (listrik), fasilitas di dalam seperti tempat wudhu yang dulu terbatas, sekarang sudah di buatkan kran untuk wudhu, hal ini termasuk salah satu usaha untuk melayani peziarah dari hasil para donatur. Karena, memang petilasan ini belum tersentuh atau belum terjamah oleh Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri.

          Objek wisata Situs Nyi Endang Geulis juga sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat sekitar desa tersebut. Salah satunya ialah membawa peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Dengan terbukanya peluang usaha tentunya akan membawa pengaruh terhadap pendapatan masyarakat sekitar yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari dan juga untuk kegiatan sosial dalam masyarakat. Jika, Pemerintahan Kabupaten Cirebon sendiri ikut andil dalam mengelola situs ini sebagai contoh memperbaiki akses jalan menuju situs tersebut, karena dalam menuju situs tersebut harus melewati jalan yang berliku – liku dan berlubang. Pemerintahan Kabupaten Cirebon diharapkan lebih intensif untuk melakukan pembinaan terhadap pengelola objek wisata yang ada di Talun, diharapkan mampu menyiapkan tenaga - tenaga professional dan pengelolaan paiwisata yang ada di Talun, terutama objek wisata Situs Nyi Endang Geulis.

           Pengembangan objek wisata juga perlu di tingkatkan agar bisa menambah ketertarikan para wisatawan dan wisatawan pun merasa betah dan nyaman, misalnya dengan menunjukkan keramahan kepada para pengunjung, menunjukkan nilai – nilai budaya masyarakat setempat agar para pengunjung juga ikut mengenal nilai – nilai budaya masyarakat di sekitar situs. Selain itu juga mesyarakat sekitar ikut serta dalam menjaga kebersihan dan keamanan di daerah sekitar Situs Nyi Edang Geulis.